Pizza selama ini begitu lekat dengan Italia. Ketika membicarakan pizza berkualitas, nama Napoli, Roma, atau kota-kota lain di Negeri Pizza hampir selalu muncul dalam bayangan. Namun, tren kuliner global pada 2026 menghadirkan sebuah kejutan menarik.

Pizza terbaik dunia tahun ini justru berada di London, Inggris.

Adalah Napoli on the Road, pizzeria yang berbasis di London, yang berhasil menempati posisi pertama dalam daftar 50 Top Pizza World 2026. Pengakuan tersebut menarik perhatian karena penghargaan itu diumumkan di Napoli, kota yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat sejarah dan budaya pizza dunia.

Fenomena ini bukan berarti Italia kehilangan posisinya dalam dunia pizza. Justru sebaliknya, daftar tersebut menunjukkan bahwa tradisi pizza Italia kini telah berkembang jauh melampaui batas geografis negaranya.

Pizza Italia, tetapi Berjaya di London

Napoli on the Road didirikan oleh Michele Pascarella, seorang pizzaiolo asal Italia yang membawa pengalaman dan tradisi pizza dari tanah kelahirannya ke Inggris.

Perjalanan bisnisnya juga cukup menarik. Sebelum memiliki restoran, Pascarella memulai Napoli on the Road pada 2016 menggunakan kendaraan roda tiga Piaggio Ape yang dilengkapi oven berbahan bakar kayu. Dari konsep sederhana tersebut, usahanya kemudian berkembang menjadi restoran di beberapa kawasan London.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana kuliner tradisional dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. Identitas Italia tetap menjadi bagian penting, tetapi penyajiannya hadir di tengah budaya kuliner London yang sangat beragam.

Kini, Napoli on the Road memiliki lokasi di Chiswick, Richmond, dan Soho. Bahkan, salah satu konsepnya menawarkan pengalaman mencicipi pizza yang terinspirasi dari masa kecil Pascarella di Caserta, Italia.

Artinya, kemenangan London sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari akar Italia. Yang berubah adalah tempat, konsumen, dan konteks ketika pizza tersebut dinikmati.

London Mengubah Peta Pizza Dunia

Peringkat 50 Top Pizza World 2026 memberikan gambaran menarik mengenai perkembangan pizza di berbagai negara.

Setelah Napoli on the Road di London, posisi kedua ditempati Una Pizza Napoletana di New York, Amerika Serikat. Posisi ketiga diraih Confine di Milan, Italia. Berikutnya terdapat sejumlah nama dari Caserta, Roma, Los Angeles, San Francisco, São Paulo, Tokyo, hingga Madrid.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pizza telah berkembang menjadi bagian dari budaya kuliner internasional.

Pizza tidak lagi hanya dipandang sebagai makanan khas Italia yang harus dinikmati di Napoli. Kota-kota besar dunia kini memiliki interpretasi, karakter, dan komunitas pizzaiolo masing-masing.

Menariknya, London dan New York berada di posisi pertama dan kedua. Hal ini memperlihatkan bahwa pusat perkembangan pizza modern semakin tersebar.

Italia Tetap Memiliki Pengaruh Besar

Meski posisi pertama berada di Inggris, Italia tetap menjadi kekuatan utama dalam daftar tersebut.

Menurut laporan Time Out mengenai pemeringkatan 2026, dari 100 pizzeria yang masuk daftar, 31 berasal dari Italia. Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan 22 pizzeria. New York sendiri mencatat tujuh restoran dalam daftar, sementara Napoli memiliki enam dan São Paulo lima.

Data tersebut penting untuk memahami fenomenanya secara lebih utuh.

Kemenangan sebuah restoran di London bukan berarti tren pizza sedang meninggalkan Italia. Sebaliknya, pengaruh Italia justru terlihat semakin kuat secara global melalui para pizzaiolo, teknik pembuatan adonan, penggunaan bahan, hingga filosofi penyajiannya.

Pizza menjadi contoh bagaimana sebuah makanan tradisional dapat melakukan perjalanan lintas negara tanpa kehilangan identitas aslinya.

Apa yang Membuat Pizza Semakin Mendunia?

Salah satu faktor penting adalah kemampuan pizza untuk beradaptasi.

Secara dasar, pizza hanya membutuhkan beberapa elemen utama seperti adonan, saus, keju, dan topping. Namun, kombinasi bahan serta teknik pengolahannya dapat menghasilkan karakter yang sangat berbeda.

Di Napoli, misalnya, tradisi pizza sangat kuat dan memiliki karakter tersendiri. Sementara di New York, pizza berkembang menjadi bagian dari budaya makan perkotaan. Di berbagai negara lain, pizzaiolo mulai menggabungkan teknik tradisional dengan bahan lokal dan pendekatan modern.

Perkembangan tersebut membuat pizza memiliki ruang yang sangat luas untuk bereksperimen.

Tidak mengherankan jika pizza kini dapat ditemukan dalam berbagai bentuk pengalaman kuliner, mulai dari pizza sederhana yang disantap cepat hingga menu degustasi yang dirancang seperti hidangan fine dining.

Kualitas Tidak Hanya Ditentukan oleh Topping

Tren pizza modern juga memperlihatkan bahwa kualitas tidak hanya berkaitan dengan banyaknya topping atau ukuran pizza.

Dalam proses penilaian 50 Top Pizza, restoran dinilai oleh hampir 1.000 inspektur anonim yang melakukan kunjungan ke restoran. Aspek yang diperhatikan mencakup pizza, kualitas bahan, pelayanan, hingga pengalaman dan keramahan di restoran.

Hal tersebut memperlihatkan perubahan cara konsumen memandang pengalaman kuliner.

Pizza yang bagus tidak sekadar soal rasa. Konsumen modern juga semakin memperhatikan kualitas bahan, teknik memasak, pelayanan, suasana restoran, serta cerita di balik makanan tersebut.

Dengan kata lain, pizza telah berkembang dari sekadar makanan menjadi sebuah pengalaman.

Tren Kuliner Global Semakin Terbuka

Fenomena Napoli on the Road juga menggambarkan tren yang semakin terlihat dalam industri makanan dunia: makanan tradisional dapat menemukan rumah baru di negara lain.

Hal serupa terjadi pada berbagai kuliner dunia. Makanan Jepang berkembang pesat di Amerika dan Eropa, masakan Korea semakin populer di berbagai negara, sementara makanan Indonesia juga mulai mendapatkan perhatian internasional.

Dalam konteks pizza, globalisasi justru membuat persaingan semakin terbuka.

Seorang pizzaiolo tidak harus berada di Italia untuk mendapatkan pengakuan dunia. Selama mampu mempertahankan kualitas, memahami teknik, memilih bahan dengan baik, dan menciptakan pengalaman yang menarik, sebuah restoran dapat bersaing di panggung internasional.

London menjadi contoh nyata dari perkembangan tersebut.

Dari Jalanan London ke Panggung Dunia

Kisah Napoli on the Road menjadi semakin menarik karena keberhasilannya tidak dimulai dari restoran mewah.

Konsep awal menggunakan kendaraan kecil dan menjual pizza di jalanan serta pasar petani London menunjukkan bahwa bisnis kuliner dapat berkembang secara bertahap.

Dalam waktu sekitar satu dekade, konsep tersebut berkembang menjadi restoran dan akhirnya mendapatkan posisi tertinggi dalam pemeringkatan pizza dunia 2026.

Perjalanan ini menjadi bagian menarik dari tren kuliner masa kini. Konsumen tidak hanya tertarik pada makanan, tetapi juga cerita mengenai bagaimana sebuah brand kuliner tumbuh dan mempertahankan identitasnya.

Pizza Dunia Sedang Mengalami Perubahan

Kemunculan London sebagai rumah bagi pizzeria nomor satu dunia memperlihatkan bahwa peta kuliner global terus bergerak.

Italia tetap menjadi pusat penting sejarah dan tradisi pizza. Namun, perkembangan pizza tidak lagi berlangsung hanya di satu negara.

New York, London, Milan, Tokyo, São Paulo, Los Angeles, Madrid, dan berbagai kota lainnya kini menjadi bagian dari ekosistem pizza dunia.

Pada akhirnya, keberhasilan Napoli on the Road bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan posisi pertama. Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah makanan yang memiliki akar budaya kuat dapat berkembang menjadi fenomena global.

Pizza mungkin lahir dan berkembang besar di Italia, tetapi perjalanan kulinernya kini telah menjadi milik dunia.

Dan pada 2026, salah satu bab paling menarik dari perjalanan tersebut datang dari London.

Bagaimana dengan Indonesia? Dengan semakin berkembangnya industri kuliner dan kreativitas chef lokal, bukan tidak mungkin suatu hari nanti pizzeria dari Indonesia ikut masuk dalam percakapan pizza terbaik dunia.

Artikel ini di tulis oleh dan hanya dapat dipergunakan oleh Bima Restaurant Grup (Bima Group).

Informasi perusahaan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Select Language