
Musim panas di Tiongkok bisa terasa sangat menyengat. Di beberapa kota besar seperti Beijing, Shanghai, hingga Chengdu, suhu bisa melampaui 40 derajat Celsius saat puncak musim panas tiba. Bagi sebagian besar warga, menghadapi teriknya matahari bukan sekadar urusan memilih pakaian tipis atau berdiam di ruangan ber-AC. Mereka juga punya cara unik dan kreatif untuk menyegarkan diri—menikmati es krim dengan rasa tradisional khas Tiongkok.
Tren ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan bentuk harmonisasi antara budaya kuliner klasik dengan gaya konsumsi modern. Di tengah serbuan es krim rasa kekinian seperti matcha, cokelat Belgia, atau stroberi susu, muncul fenomena menarik: es krim rasa herbal dan jajanan klasik China yang kian digemari di musim panas.
Kembalinya Rasa-Rasa Klasik dalam Wujud Es Krim
Es krim tradisional ala Tiongkok bukan hal baru. Namun dalam beberapa tahun terakhir, produsen lokal dan UMKM kuliner mulai menggali kembali rasa-rasa khas dari pengobatan tradisional hingga kudapan masa kecil untuk dijadikan varian es krim.
Beberapa rasa yang kini populer di kalangan konsumen adalah:
- Lo Han Guo (buah monk) – dikenal sebagai bahan herbal penyejuk dalam pengobatan tradisional.
- Kembang Krisan – memiliki aroma ringan dan dipercaya bisa menurunkan panas dalam.
- Teh oolong dan teh pu-erh – rasa pahit-manis yang menyegarkan.
- Kacang merah dan wijen hitam – rasa yang mengingatkan pada makanan penutup klasik China.
- Jahe, lengkeng, dan jujube (kurma merah) – kombinasi unik yang menghangatkan namun tetap menyegarkan.
Tren ini menyajikan pengalaman yang tidak hanya memanjakan lidah, tapi juga menghubungkan konsumen modern dengan warisan budaya dan filosofi kesehatan tradisional.
Es Krim Bukan Sekadar Camilan, Tapi Bagian dari Pengobatan Tradisional?
Di banyak kota, es krim herbal dijual dengan label yang lebih dari sekadar “lezat” atau “unik”. Beberapa bahkan mengklaim punya efek pendingin tubuh, detoksifikasi, atau menurunkan panas dalam—istilah yang lazim digunakan dalam sistem pengobatan Tradisional Tiongkok (Traditional Chinese Medicine/TCM).
Misalnya, es krim rasa Lo Han Guo tak hanya manis alami tanpa tambahan gula, tapi juga dipercaya meredakan tenggorokan kering dan batuk ringan yang sering muncul saat cuaca panas ekstrem. Di sisi lain, es krim rasa krisan dan teh hijau disebut-sebut mampu menenangkan pikiran dan memperbaiki sirkulasi tubuh.
Meski belum semua klaim ini didukung studi ilmiah modern, pendekatan yang memadukan rasa, fungsi kesehatan, dan kearifan lokal ini menarik perhatian banyak kalangan—termasuk wisatawan asing yang ingin mencoba “rasa Tiongkok dalam bentuk dingin”.
Inovasi dari Brand Lokal hingga Toko Kecil
Tidak hanya perusahaan besar seperti Haagen-Dazs atau Wall’s yang mencoba ikut dalam tren ini. Banyak produsen lokal dan merek independen memanfaatkan tren es krim rasa tradisional sebagai bentuk inovasi bisnis.
Beberapa toko es krim rumahan di provinsi Guangdong, misalnya, menyajikan varian es krim dengan bahan-bahan seperti biji teratai, lengkeng kering, dan akar ginseng. Di Chengdu, es krim dengan rasa mapo tofu (hidangan pedas khas Sichuan) bahkan menjadi viral di media sosial karena keberaniannya menggabungkan rasa pedas dan dingin dalam satu gigitan.
Di Beijing, beberapa toko bahkan menyajikan es krim rasa cuka Shanxi dan acar plum, sebagai bagian dari eksplorasi rasa masam yang menyegarkan lidah.
Daya Tarik Visual dan Budaya yang Kuat
Selain rasa, penampilan dan cerita di balik setiap es krim juga menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa merek mengemas produk mereka dengan desain tradisional, seperti gambar kuil kuno, kaligrafi China, atau simbol kesehatan TCM. Bahkan ada es krim yang dicetak menyerupai bentuk arsitektur tradisional seperti Pagoda atau Gerbang Kota Kuno.
Tak heran, banyak konsumen muda menjadikan es krim ini sebagai konten media sosial. Foto-foto es krim dengan latar kuil, pasar malam, atau jalanan bergaya retro menjadi bagian dari pengalaman menikmati musim panas yang estetis sekaligus penuh nilai budaya.
Mengapa Tren Ini Bisa Bertahan?
Tren es krim rasa tradisional tidak hanya muncul karena keinginan akan nostalgia atau keunikan rasa, tapi juga karena kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat. Bahan-bahan alami seperti teh, biji-bijian, dan buah herbal dianggap lebih ringan dan ramah pencernaan dibanding es krim dengan pemanis buatan dan pengawet.
Selain itu, identitas budaya lokal menjadi nilai jual yang kuat. Di era globalisasi, konsumen muda di China semakin ingin terhubung dengan akar budayanya, namun dengan cara yang modern dan menyenangkan. Es krim menjadi media yang pas untuk menjembatani antara tradisi dan tren masa kini.
Respons dari Konsumen dan Wisatawan
Banyak wisatawan yang mengunjungi Tiongkok kini menjadikan mencicipi es krim rasa lokal sebagai agenda wajib. Ulasan positif bertebaran di media sosial seperti Xiaohongshu, Douyin, hingga TripAdvisor.
“Saya tidak pernah menyangka krisan bisa seenak ini dalam bentuk es krim,” tulis seorang pengguna asal Malaysia. “Rasa yang ringan, menyegarkan, dan tidak terlalu manis. Cocok banget buat musim panas!”
Selain itu, banyak yang mengapresiasi bahwa es krim ini tidak hanya enak tapi juga punya cerita. Dalam satu gigitan, mereka bisa merasakan cita rasa sekaligus mendalami filosofi budaya yang diwariskan turun-temurun.
Penutup
Musim panas yang terik di Tiongkok tak hanya menguji ketahanan tubuh, tapi juga memunculkan kreativitas tanpa batas dalam dunia kuliner. Es krim dengan rasa-rasa tradisional bukan hanya solusi menyegarkan, tetapi juga perwujudan bagaimana budaya dan warisan lokal bisa hidup dalam bentuk yang kekinian dan menyenangkan.
Bagi yang berkunjung ke Tiongkok atau ingin mencoba sesuatu yang berbeda, mencicipi es krim rasa Lo Han Guo, teh pu-erh, atau biji wijen hitam bisa menjadi pengalaman tak terlupakan. Ini bukan hanya tentang rasa, tapi juga tentang menikmati sejuknya masa lalu dalam setiap sendok yang dingin.
Artikel ini di tulis oleh dan hanya dapat dipergunakan oleh Bima Restaurant Grup (Bima Group).
Informasi perusahaan :
WEBSITE : https://www.bimagroup.id/
INSTAGRAM : https://www.instagram.com/bimarestaurant/
FACEBOOK : https://www.facebook.com/bimacuisine/