
Susu kental manis (SKM) telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Mulai dari campuran kopi, olesan roti, hingga pelengkap martabak manis. Namun, di balik popularitasnya, muncul sebuah pertanyaan mendasar yang sering memicu kontroversi: Apakah susu kental manis benar-benar susu?
Jawaban singkatnya adalah ya, secara teknis ia mengandung unsur susu, tetapi tidak bisa dikategorikan sebagai “susu” dalam fungsi nutrisi utamanya. Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa SKM berbeda dengan susu cair biasa, bagaimana regulasi mengaturnya, serta risiko kesehatan yang mengintai jika dikonsumsi secara salah.
1. Memahami Proses Pembuatan: Dari Susu Menjadi Sirup
Untuk memahami jati diri SKM, kita harus melihat bagaimana ia dibuat. Susu kental manis diproduksi melalui proses penguapan (evaporasi).
Susu sapi segar dipanaskan untuk menghilangkan sebagian besar kandungan airnya (sekitar 60%). Hasilnya adalah cairan susu yang kental. Namun, perbedaan krusialnya terletak pada penambahan gula dalam jumlah yang sangat banyak. Gula di sini berfungsi ganda: sebagai penambah rasa dan sebagai pengawet alami yang mencegah pertumbuhan bakteri, sehingga SKM memiliki masa simpan yang jauh lebih lama daripada susu pasteurisasi.
2. Perbandingan Nutrisi: Susu vs. Susu Kental Manis
Banyak orang tua yang keliru menganggap bahwa satu gelas air yang dicampur dengan dua sendok makan SKM setara dengan satu gelas susu segar. Ini adalah miskonsepsi yang berbahaya.
Kandungan Gula yang Tinggi
Secara komposisi, SKM didominasi oleh karbohidrat (gula). Sebagian besar produk SKM di pasar memiliki kandungan gula sekitar 40% hingga 50%. Sebagai perbandingan:
- Susu Segar: Mengandung laktosa (gula alami susu) tanpa tambahan gula pasir.
- SKM: Mengandung laktosa ditambah sukrosa (gula pasir) dalam jumlah masif.
Rendahnya Protein dan Kalsium
Dalam satu porsi susu cair segar, Anda mendapatkan protein dan kalsium yang tinggi untuk pertumbuhan tulang. Dalam satu porsi SKM, jumlah proteinnya jauh di bawah standar kebutuhan harian untuk pertumbuhan anak. Itulah sebabnya SKM lebih tepat disebut sebagai toping atau pelengkap sajian daripada sumber nutrisi utama.
3. Regulasi BPOM dan Kategori Produk
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia telah memberikan penegasan yang jelas melalui Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan.
Beberapa poin penting dari regulasi tersebut adalah:
- Dilarang Menampilkan Visual Anak-anak: Produsen dilarang menampilkan anak di bawah usia 5 tahun dalam iklan atau label SKM.
- Bukan Pengganti ASI: SKM dilarang keras digunakan sebagai pengganti Air Susu Ibu (ASI) atau susu formula bayi.
- Hanya Sebagai Pelengkap: Label harus secara jelas menunjukkan bahwa produk ini adalah pelengkap hidangan.
Catatan Penting: Secara kategori pangan, SKM masuk dalam subkategori susu, namun karena kandungan gulanya yang tinggi, ia tidak boleh dikonsumsi sebagai minuman tunggal untuk memenuhi kebutuhan gizi.
4. Bahaya Tersembunyi: Risiko Jika Dikonsumsi Secara Salah
Mengapa para ahli kesehatan sangat vokal mengenai hal ini? Mengonsumsi SKM seolah-olah mengonsumsi susu sehat dapat membawa dampak jangka panjang bagi kesehatan:
A. Obesitas dan Diabetes
Asupan gula yang berlebih adalah pemicu utama obesitas. Jika seorang anak terbiasa minum “susu” yang sebenarnya adalah sirup gula, risiko diabetes tipe 2 di masa muda meningkat secara drastis.
B. Kerusakan Gigi (Karies)
Kombinasi tekstur kental yang menempel di gigi dan kandungan gula yang tinggi menciptakan lingkungan sempurna bagi bakteri untuk merusak email gigi.
C. Masalah Gizi Buruk (Stunting)
Ini adalah masalah serius di Indonesia. Banyak orang tua merasa sudah memberikan “susu” kepada anaknya, padahal anak tersebut hanya mendapat asupan gula tanpa protein dan lemak sehat yang dibutuhkan otak. Akibatnya, anak merasa kenyang tapi sebenarnya mengalami malnutrisi.
5. Cara Bijak Mengonsumsi Susu Kental Manis
Apakah ini berarti kita harus membuang semua kaleng SKM di dapur? Tidak juga. SKM tetap memiliki tempat dalam dunia kuliner, asalkan digunakan dengan benar:
- Gunakan Sebagai Perisa: Tambahkan sedikit pada kopi atau teh sebagai pengganti gula dan krimer.
- Topping Makanan: Gunakan pada martabak, pisang bakar, atau salad buah dalam porsi yang wajar.
- Bahan Kue: SKM sangat baik digunakan dalam pembuatan kue untuk memberikan tekstur yang creamy dan legit.
- Bukan untuk Minuman Harian: Jangan pernah memberikan SKM yang dilarutkan dalam air sebagai pengganti susu botol untuk balita.
Kesimpulan
Susu kental manis memang mengandung unsur susu, tetapi ia telah bertransformasi menjadi produk pangan yang tinggi energi dan tinggi gula. Menjadikan SKM sebagai sumber nutrisi utama adalah kesalahan fatal dalam pola asuh dan pola makan.
Mulai sekarang, bacalah label nutrisi dengan teliti. Pastikan keluarga Anda mendapatkan nutrisi dari sumber yang tepat: ASI untuk bayi, susu formula untuk balita (jika diperlukan), dan susu segar atau UHT untuk anak-anak dan dewasa. Biarkan susu kental manis tetap pada fungsinya yang sejati: sebagai pemanis yang menambah kelezatan hidangan penutup Anda.
Artikel ini di tulis oleh dan hanya dapat dipergunakan oleh Bima Restaurant Grup (Bima Group).
Informasi perusahaan :
WEBSITE : https://www.bimagroup.id/
INSTAGRAM : https://www.instagram.com/bimarestaurant/
FACEBOOK : https://www.facebook.com/bimacuisine/