
Keinginan untuk mengurangi konsumsi gula membuat banyak orang mulai mencari alternatif pemanis yang dianggap lebih sehat. Salah satu yang semakin populer adalah stevia. Pemanis yang berasal dari tanaman Stevia rebaudiana ini dikenal memiliki rasa manis jauh lebih kuat dibandingkan gula biasa, tetapi mengandung sangat sedikit atau bahkan tanpa kalori dalam jumlah penggunaan yang lazim.
Stevia kemudian banyak digunakan dalam minuman, makanan rendah kalori, hingga produk yang ditujukan bagi orang yang ingin mengurangi asupan gula. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah mengganti gula dengan stevia benar-benar lebih aman jika dilakukan dalam jangka panjang?
Jawabannya tidak sesederhana “stevia pasti lebih sehat”. Ada beberapa hal yang perlu dipahami sebelum menjadikan stevia sebagai bagian dari pola makan sehari-hari.
Apa Itu Stevia?
Stevia merupakan pemanis yang berasal dari daun tanaman Stevia rebaudiana, yang banyak dikenal berasal dari Amerika Selatan. Rasa manisnya berasal dari senyawa bernama steviol glikosida, termasuk stevioside dan rebaudioside.
Steviol glikosida memiliki tingkat kemanisan yang jauh lebih tinggi daripada sukrosa atau gula pasir. Karena itu, penggunaannya hanya membutuhkan jumlah yang sangat sedikit untuk menghasilkan rasa manis yang sama.
Karakteristik tersebut membuat stevia menarik sebagai alternatif gula, terutama bagi orang yang sedang berusaha mengurangi konsumsi gula tambahan dan kalori.
Namun, penting membedakan stevia murni dengan produk pemanis yang menggunakan stevia sebagai salah satu bahan. Produk komersial dapat mengandung bahan tambahan atau pemanis lain. Karena itu, membaca label kemasan tetap penting.
Mengapa Stevia Dianggap Lebih Aman daripada Gula?
Salah satu alasan stevia populer adalah karena pemanis ini dapat memberikan rasa manis dengan kontribusi kalori yang sangat kecil.
Sementara itu, konsumsi gula tambahan secara berlebihan dapat meningkatkan total asupan energi. Jika berlangsung terus-menerus dan tidak diimbangi dengan aktivitas fisik atau pola makan yang sesuai, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan, termasuk peningkatan berat badan dan gangguan metabolisme.
Menggunakan stevia sebagai pengganti sebagian gula dapat membantu seseorang mengurangi jumlah gula yang dikonsumsi. Inilah salah satu manfaat utama yang membuat pemanis rendah atau tanpa kalori menarik.
Meski demikian, mengganti gula dengan stevia bukan berarti otomatis membuat seluruh pola makan menjadi sehat.
Jika seseorang masih sering mengonsumsi makanan ultra-proses, minuman manis, makanan tinggi lemak jenuh, atau memiliki pola makan yang tidak seimbang, mengganti pemanis saja tidak cukup untuk memperbaiki kualitas diet secara keseluruhan.
Apakah Stevia Aman Dikonsumsi Jangka Panjang?
Secara umum, steviol glikosida yang telah dimurnikan dan memenuhi standar keamanan pangan telah dievaluasi oleh berbagai otoritas keamanan pangan. Namun, keamanan tetap berkaitan dengan jenis produk, tingkat kemurnian, jumlah konsumsi, serta kondisi individu.
Konsep penting yang perlu dikenal adalah acceptable daily intake (ADI) atau asupan harian yang dapat diterima. Untuk steviol glikosida, ADI umumnya dinyatakan berdasarkan berat badan dan dinyatakan sebagai ekuivalen steviol.
Artinya, “aman” bukan berarti seseorang bebas mengonsumsi produk pemanis berbasis stevia sebanyak-banyaknya.
Seperti bahan pangan lainnya, jumlah konsumsi tetap perlu diperhatikan. Menggunakan sedikit stevia untuk menggantikan gula dalam kopi atau teh tentu berbeda dengan mengonsumsi berbagai produk pemanis setiap hari dalam jumlah besar.
Bagaimana dengan Efek Sampingnya?
Pada sebagian orang, konsumsi produk yang mengandung pemanis tertentu dapat menyebabkan keluhan pencernaan, terutama jika produk tersebut juga mengandung bahan lain seperti gula alkohol.
Keluhan yang mungkin muncul antara lain kembung atau perubahan pola buang air besar. Namun, efek tersebut tidak selalu berasal dari stevia itu sendiri karena komposisi setiap produk dapat berbeda.
Selain itu, sebagian orang mungkin tidak menyukai rasa stevia yang memiliki karakteristik berbeda dari gula. Beberapa produk dapat meninggalkan rasa pahit atau aftertaste tertentu.
Karena itu, jika ingin menggunakan stevia, konsumsilah dalam jumlah wajar dan perhatikan bagaimana tubuh meresponsnya.
Apakah Stevia Bisa Membantu Mengontrol Gula Darah?
Salah satu alasan stevia sering dipilih adalah karena steviol glikosida tidak bekerja seperti gula pasir dalam memberikan asupan karbohidrat dan kalori.
Mengganti gula dengan pemanis rendah atau tanpa kalori dapat membantu mengurangi jumlah gula yang dikonsumsi dalam makanan atau minuman. Hal ini dapat menjadi salah satu strategi untuk mengurangi asupan gula tambahan.
Namun, bukan berarti stevia merupakan “obat” untuk gula darah.
Produk yang diberi label stevia juga belum tentu bebas dari karbohidrat atau kalori karena dapat mengandung bahan lain. Bahkan makanan yang menggunakan stevia tetap perlu diperhatikan kandungan karbohidrat totalnya.
Karena itu, penderita diabetes atau orang yang sedang mengontrol gula darah sebaiknya tidak hanya melihat nama pemanis, tetapi juga membaca informasi nilai gizi dan daftar bahan pada kemasan.
Stevia Alami, Apakah Berarti Pasti Lebih Sehat?
Istilah “alami” sering membuat konsumen menganggap suatu bahan otomatis lebih aman. Padahal, penilaian keamanan pangan tidak cukup hanya berdasarkan apakah suatu bahan berasal dari tumbuhan.
Stevia memang berasal dari tanaman, tetapi produk yang dikonsumsi dapat melalui proses ekstraksi dan pemurnian. Selain itu, produk pemanis komersial dapat memiliki komposisi yang berbeda-beda.
Jadi, istilah “alami” sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya alasan untuk memilih suatu produk.
Yang lebih penting adalah jenis bahan yang digunakan, jumlah konsumsi, proses pengolahan, serta keseluruhan pola makan.
Lalu, Lebih Baik Gula atau Stevia?
Jawabannya bergantung pada tujuan dan pola konsumsi masing-masing orang.
Jika seseorang terbiasa menambahkan banyak gula ke kopi, teh, atau minuman lainnya, mengganti sebagian gula dengan stevia dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi konsumsi gula tambahan.
Namun, pilihan yang paling sederhana tetaplah mengurangi kebiasaan menyukai rasa terlalu manis.
Misalnya, jika biasanya menggunakan dua sendok teh gula, jumlah tersebut dapat dikurangi secara bertahap. Dengan demikian, lidah perlahan dapat beradaptasi dengan rasa yang tidak terlalu manis.
Stevia dapat menjadi alat bantu, bukan satu-satunya solusi.
Perhatikan Label Sebelum Membeli
Sebelum membeli produk pemanis berbasis stevia, jangan hanya melihat tulisan “stevia” pada bagian depan kemasan.
Periksa daftar komposisi, kandungan energi, jumlah karbohidrat, jenis pemanis, serta takaran saji. Ini penting karena produk yang berbeda dapat memiliki formulasi yang berbeda pula.
Selain itu, gunakan sesuai petunjuk pada kemasan. Jangan beranggapan bahwa karena suatu produk mengandung pemanis rendah kalori, maka semakin banyak dikonsumsi akan semakin baik.
Kesimpulan
Mengganti gula dengan stevia dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi konsumsi gula tambahan, terutama karena steviol glikosida memberikan rasa manis dengan kalori yang sangat rendah pada penggunaan yang lazim.
Namun, stevia bukan berarti bebas risiko dan bukan pula tiket untuk mengonsumsi makanan atau minuman manis tanpa batas. Keamanan tetap berkaitan dengan jumlah konsumsi, jenis produk, komposisi bahan, dan kondisi masing-masing individu.
Pada akhirnya, pola makan sehat bukan hanya soal memilih pemanis. Mengurangi makanan dan minuman tinggi gula, memperbanyak makanan bergizi, menjaga aktivitas fisik, serta membiasakan diri dengan rasa yang tidak terlalu manis tetap menjadi bagian penting.
Jadi, jika ingin mengganti gula dengan stevia, gunakan secara bijak dan tetap perhatikan label produk. Stevia dapat menjadi alternatif, tetapi kebiasaan makan secara keseluruhan tetap menjadi faktor yang jauh lebih penting.
Artikel ini di tulis oleh dan hanya dapat dipergunakan oleh Bima Restaurant Grup (Bima Group).
Informasi perusahaan :
WEBSITE : https://www.bimagroup.id/
INSTAGRAM : https://www.instagram.com/bimarestaurant/
FACEBOOK : https://www.facebook.com/bimacuisine/